Gara-gara Harta

Drrrttttt
Siapa yang peduli dengan suara itu? Tidak ada.
Semua orang sibuk berbicara soal warisan. Saat itu, aku mana paham? Umurku masih kecil sekali. Sekitar 3 tahun. 

Aku hanya terdiam mendengarkan suara suara orang yang kadang berteriak, mengumpat, atau menangis. Sebenarnya aku merasa tidak nyaman, lalu aku menangis, namanya juga anak kecil.

Namun, sekali lagi. Siapa yang peduli? Tidak ada.

Hingga aku merasa lelah sendiri, lalu aku meraih handphone yang sedari tadi bergetar. Tanganku tak sengaja menggeser tombol hijau. Telepon itu terangkat.

"HARNI! APA YANG KAU LAKUKAN SEDARI TADI HAH??!! SUAMIMU MENINGGAL BODOH!"

Aku kaget, refleks menangis. Bukan karena beritanya (aku mana faham) tapi karena teriakannya yang cukup keras. 

Semua orang menoleh ke arah handphone yang ku pegang. Tidak ada yang berkutik,  bahkan ibuku pun hanya terdiam, saling pandang dengan kakaknya.

"Ambil saja jatahku Mas, aku akan dapat yang lebih banyak." Ibu berkata sumringah. Ia kemudian merebut handphone yang ku bawa. Lalu menangis, tangis palsu. Aku tau itu.